Seorang teman di Indonesia menghantar email dengan kandungan berikut:-

Seperti yang telah banyak diketahui, Bukit Uhud menjadi saksi  kekalahan kekalahan barisan kaum muslimin dari pasukan musyrikin Makkah  di bawah komando Khalid bin Walid. Para mujahidin pun kocar-kacir dan  berhimpun kembali di perbatasan Madinah dengan kekuatan seadanya.  Sementara, kaum musyrik Makkah berpesta pora merayakan kemenangannya di  kamp Uhud.

 

Rasulullah SAW dengan kapasitas kepemimpinannya tidak membiarkan  kekuatan mujahidin tenggelam dalam duka dan isu-isu yang terus menggulir dan membesar tentang kekalahan kaum muslimin. Menjelang subuh,  Rasulullah SAW menghimpun para sahabat yang sebelumnya menghadiri  kekalahan di Uhud.

 

Dengan membawa obor-obor besar, para mujahidin kembali menuju medan  Uhud di sepertiga malam tersebut. Dari kejauhan di bukit Uhud, pasukan  musyrikin Makkah melihat seakan ada serombongan pasukan besar dari arah  Madinah menuju Uhud. Dalam kondisi yang lelah setelah perang dan lengah  setelah pesta kemenangan, tanpa komando, pasukan musyrikin lari tunggang langgang meninggalkan Uhud untuk menyelamatkan diri dan rampasan perang kembali menuju Makkah.

 

Dari kisah tersebut, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita semua  bagaimana memutarbalikkan krisis menjadi sebuah supremasi. Rasulullah  menyadari betul, bahwa setelah kekalahan di Uhud, seluruh mental juang  para sahabat mengalami krisis yang luar biasa, belum lagi hembusan  fitnah yang melumpuhkan semangat dan nalar para mujahidin, serta  kerugian fisik, luka-luka, serta kematian para sahabat yang tidak  sedikit.

Teruskan perjuangan wahai Saudara seagama. Kelompok agamawan di Indonesia juga biasa kalah. Namun perjuangan mesti diteruskan.

Salam kasih persaudaraan rentas Selat Melaka,

Buntarno Al-Jawi

Ana kenal dengan Buntarno ini sudah lama. Sejak dia hadir ke Melewar 8 tahun yang lalu sebagai pemerhati dari universitas Indonesia. Kemudian beliau ke Makkah selama 3 tahun. Sebelum menjadi pengajar di IAIN.

Dengan apa yang sedang berlaku di Kuala Besut, ana setuju dengan pandangannya. Tidak perlu banyak bersedih. Walau ditinggal sahabat politik yang lain. Menangis air mata darah sekalipun, tidak bisa mengembalikan semangat.

Ana akan habiskan hari ini. Untuk menyaksikan sendiri bahawa tahaluf siyasi kian mati.

 

Sajak ringkas ana:-

 

Kuala Besut jadi saksi…

Tahaluf siyasi kian mati…

Kerana penting diri…ego peribadi…

Kami ditinggal…sendiri dan sepi

 

Tiada Khalid al-Walid dalam perjuangan ini

Tiada Talhah, Tiada Anas, Tiada Umar,

Yang ada…hanyalah juang dompet dan tekak,

Buncit perutmu membengkak,

Derma rakyat dijadikan tuak.

 

Salam Ikhlas,

Kuala Besut – 24 Julai 2013

Advertisements