Mati SyahidDewan Ulamak PAS Pusat ingin menegaskan bahawa para perajurit kita  adalah wira negara yang mempertahankan kedaulatan dan keamanan negara.

“Mereka adalah syahid di atas dunia lagi, dan diberikan penghormatan  seperti syahid. Najib hanya memanggil mereka sebagai syahid akhirat  sahaja!” tegas Ketuanya, Datuk Harun Taib dalam satu kenyataan ringkas.

Menurut beliau, Najib yang juga merupakan Perdana Menteri dan  Presiden Umno telah merendahkan martabat para perajurit dengan  menyamakan pengorbanan mereka dengan kematian seorang yang lemas, orang  yang mati kebakaran, wanita yang mati melahirkan anak dan seumpamanya  seperti yang dijelaskan oleh para ulama.

Pada ana, tak perlulah kita manusia nak jadi ALLAH SWT dalam isu ini. Syahid ini adalah rahsia Allah SWT jua. Bukan kita manusia. Anwar sebenarnya tak setuju kalau kita asyik nak bertelagah SYAHID siapa lebih ada value. Bukan ada cop SIRIM pun kalau seseorang itu SYAHID. Majlis Syura mana sekalipun tak boleh nak tentu siapa yang syahid dunia dan syahid akhirat.

Pertama, kita kena setuju bahawa mereka berkhidmat untuk negara dan bangsa. Itu paling penting. Kata syahid dan bentuk jamaknya syuhada digunakan dalam sejumlah ayat al-Qur’an. Diantaranya firman Allah yang menyatakan:

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itu teman yang sebaik-baiknya.” (Qs. An-Nisa [4]:69).

Menurut Tafsir al- Fakhr ar-Razi, asy-syahid adalah orang yang memberi kesaksian akan kebenaran agama Allah, baik dengan argument atau penjelasan, maupun dengan pedang dan tombak. Orang yang terbunuh di jalan Allah disebut dengan syahid.Sebab, orang tersebut mengorbankan jiwanya demi membela agama Allah dan jiwanya demi membela agama Allah dan menjadi kesaksian baginya bahwa agama Allah itu yang benar. Lain dari itu adalah batil( ar-Razi, 1995: jilid 5, h. 180). Dalam ungkapan yang lain, penulis at- Tafsir al-Wadhih menerangkan, bahwa syuhada adalah orang yang menyaksikan kebenaran dengan alasan dan bukti serta berperang di jalan Allah dengan pedang dan tombak hingga ia terbunuh (Hijazi, 1969: juz 5, h.32). Dalam pandangan kedua musafir itu, senjata yang digunakan menunjuk kepada peralatan perang yang masih bersahaja yang digunakan pada masa al-Qur’an diturunkan.
Berkaitan dengan itu, Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, menjelaskan :

Barang siapa memohon kesyahidan kepada Allah dengan benar, Allah akan membuatnya sampai pada derajat kesyahidan, meskipun ia mati di atas tempat tidurnya(an-Nawawi, 2005 :245)
Ana cadang, kita tak payah main la isu ini.

Bak kata P Ramlee….ANA MATI DALAM IMAN (PAS lettew….).